Ketika Nindya bisa bercerita
this is : http://www.dyapunyacerpen.blogspot.com
oke, welcome friends! silahkan baca-baca beberapa kumpulan cerita pendek sayaaa.. :D :D
Jumat, 13 November 2009
about:
TAHUN BARU YANG HARU
author:name here
Perempuan itu terlihat sibuk memilih sebuah novel, berambut lurus, berkacamata, dan mengenakan jeans + kaos skirt. Perempuan itu adalah kekasihku, Feby namanya. Ya, iya adalah seorang penulis novel yang cukup terkenal. "Bi, seneng deh, novelku disini laku keras" ujarnya sambil menunjuk sederetan buku. "Iyaaaa sayang.. selamat yaaaa!" jawabku. Sekian lama ia berjalan memutari beberapa deretan buku, Iya memutuskan untuk memilih sebuah novel yang berjudul 'Im not perfect girl' tidak tahu juga kenapa ia memilih novel itu, dia hanya berkata ceritanya kisah nyata, dan memang bagus.
Kami berjalan menuju kasir, penjaga kasir itu adalah seorang teman kuliahku, yang sedang bekerja paruh waktu di toko buku ini. Namanya Lyla. Ia datang jauh-jauh dari Jambi untuk meneruskan pendidikannya di kota pelajar ini. Aku dan Lyla sempat mengobrol tentang beberapa sifat dosen di fakultas kami. Namun, belum puas mengobrol dengan Lyla, tampang Feby sepertinya sudah kesal, mungkin ia cemburu.
Suatu ketika Feby mendatangiku dengan wajah pucat pasi. Aku berusaha mengajaknya untuk pergi ke dokter, aku takut terjadi sesuatu dengannya. "Febyyy,, sebaiknya kamu kedokter, ayo aku anter kamu ke dokter" aku membujuknya. "Abiiii,, aku gak papa kok, cuma sakit kepala biasa, ntar pasti sembuh lagii" Febi menolak ajakanku. Selang beberapa menit Feby jatuh dan pingsan, aku membondongnya kedalam mobil dan segera menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, aku memberi kabar pada ibu Feby. Ya Feby hanya hidup bersama ibunya, ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu, karena sebuah penyakit yang aku tidak begitu tahu. Dokter memanggilku untuk berbicara di ruangannya. "Feby menderita Leukimia" deg, jantungku seolah-olah berhenti aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, badanku terasa lemas. Datanglah ibu Feby, ia meminta penjelasan dari dokter. Aku keluar dari ruangan itu, badanku seolah tak berdaya menanggapi kenyataan ini.
Feby telah tersadar dari pingsannya. Ia keluar dari rumah sakit setelah berada 3 hari dirumah sakit. Aku menjalani hari-hariku dengan Feby, aku berusaha tegar didepannya, selalu ada di sampingnya, karena aku benar-benar takut kehilangannya. Feby sudah pasrah dengan hidupnya, ia mengatakan hal itu kepadaku. Ia juga sudah berhenti menulis novel-novelnya. Ia seringkali pingsan, dan aku juga seringkali membawa febby ke rumah sakit, bahkan suster-suster dirumah sakit sudah kenal denganku.
Malam tahun baru akan datang, aku dan teman-temanku yang lain, mengadakan acara di bukit bintang, kami memanggil bukit itu dengan sebutan bukit bintang. Ya, karena dari bukit ini kami dapat melihat betapa banyaknya bintang-bintang dilangit sana.
Aku tak segan-segan mengajak Feby untuk ikut, dan Feby menerima ajakkanku. Krisna, Nova, Adel, Rena juga mengajak Feby untuk ikut.Sebelum kami semua sampai di bukit bintang, kami sempat membeli banyak petasan, dan kembang api.
Sesampainya kami di bukit bintang, kami pun menggelar tikar, dan menyiapkan banyak makanan untuk malam ini. Aku dan Feby menikmati jagung bakar, duduk di sebuah kursi panjang.. dan menyalakan beberapa kembang api.. "Feb, lihat deh ni kembang api sama bagusnya kayak bintang-bintang di atas sana.." ungkapku "Iya ya bi,, aku pengen deh jadi bintang, yang bisa terus bersinar sepanjang malam" jawab Feby.. "Kamu kan selalu bersinar dihatiku feb" ungkapku lagi. Tidak terdengar suara apapun, hening. Aku memanggil Feby "Feb-feb-feby" panggilku, iyapun tak menyahut sama sekali, kepalanya berada di pundakku. Aku mencoba untuk membangunkannya, tetapi tidak berhasil, denyut nadinya sudah berhenti. Sang kuasa telah memanggilnya ke surga.
Label: cerpen, sad ending